06 Februari 2008 08:04
Tanjungpinang- Pemerintah Provinsi Kepri, menerima 2 unit mobil dari pemerintah pusat (4/02). Mobil itu terdiri dari 1 unit untuk perpustakaan keliling, serta 1 unit lagi dari Departemen Kominfo buat penunjang operasional biro humas dan protokol Setdaprov Kepri.
Penyerahan dilakukan Kepala Perpustakaan Nasional RI (PNRI) Dady P Rachmananta dan Kepala Kominfo Syofyan Tanjung yang diterima langsung Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah. Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah mengatakan, khusus bantuan mobil perpustakaan keliling dan buku-buku bagi perpustakaan umum harus diprioritaskan pada wilayah terpencil dan jauh dari mobilisasi umum.
Hingga kini lanjutnya masyarakat masih banyak butuh buku bacaan. Dibanding jumlah penduduk Provinsi Kepri yang mencapai 1,3 juta jiwa, penyediaan buku bacaan masih sekitar 29 ribu jenis judul buku. Idealnya, Provinsi Kepri punya sekitar 100 ribu.
Terkait hal ini, Ismeth berencana mewacanakan gerakan mencari buku. Upaya ini perlu digalakkan agar penyediaan buku di Kepri memadai. ”Kita tentu perlu menggalakkan gerakan mencari buku. Tak saja kalangan pegawai, lapisan masyarakat juga harus melakukan,” tutur Ismeth.
Kepala Perpustakaan Nasional RI (PNRI) Dady P Rachmananta mengatakan, bantuan mobil pustaka keliling merupakan kepedulian pemerintah dalam upaya meningkatkan program wajib belajar. Kantor perpustakaan sebagai leading sector harus berperan maksimal memacu semangat generasi muda. Sasaran alokasi, antara lain daerah terpencil dan jauh dari mobilisasi umum. Kehadiran mobil pustaka keliling diharapkan mampu memberikan semangat warga untuk gemar membaca.
Dady P Rachmananta menyebut, alokasi bantuan mobil perpustakaan keliling dan buku-buku bagi perpustakaan umum kabupaten/kota se-Indonesia bersumber dana APBN Tahun Ajaran 2007. Jumlahnya sebanyak 50 unit. Tiap kabupaten/kota yang terpilih menerima hanya kebagian jatah 1 unit. Pengadaan mobil telah dilengkapi sekitar 1.606 judul buku bacaan.
”Saya minta mobil pustaka keliling jangan disalahgunakan. Jika di lapangan ada yang tak melaksanakan, kita akan beri sanksi tegas pimpinannya. Program wajib belajar dan gemar membaca harus terealisasi hingga ke pelosok,” ujar Dady P Rachmananta.
Sejak tahun 2003 hingga 2008, pemerintah pusat telah mengalokasikan bantuan mobil pustaka keliling plus pengadaan buku bacaan sebanyak 202 unit. Jumlah ini katanya masih sangat minim karena banyak daerah belum kebagian.
Dalam kesempatan tersebut, Dady P Rachmananta memberi pujian pada Provinsi Kepri karena dinilai paling berhasil menggalakkan program gemar membaca. Kontan, puluhan Kepala Kantor perpustakaan dan arsip daerah se-Indonesia, yang menghadiri memberikan aplous.
”Hanya Provinsi Kepri yang berhasil menggalakkan mobil pustaka keliling. Upaya gemar baca dilakukan secara luas. Saya berharap, pemerintah provinsi lain, mengikuti jejak Provinsi Kepri,” ujar Dady P Rachmananta.
Keberhasilan Provinsi Kepri dalam menggalakkan minat baca, Dady P Rachmananta memberi penjelasan, karena hanya Kepri yang mau menambah pengadaan mobil pustaka keliling bersumber APBD. Hal inilah katanya tujuan semula pemerintah pusat mengalokasikan bantuan mobil pustaka keliling.
Sumber : Batam Pos
Kredit foto : www.pnri.go.id
http://melayuonline.com/news/?a=Z291Vi91UGlaM1ZBY2E%3D=&l=perpustakaan-keliling-masuk-daerah-terpencil
Senin, 18 Mei 2009
PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
Tahun 2008 Bagaimana?
Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?
Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:
1. Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
2. Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
3. Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
4. Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
5. Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
6. Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
7. Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
8. Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.
Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !
Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.
Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.
Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!
Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.
Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.
Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.
Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.
Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.
Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).
"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".
Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.
PERPUSTAKAAN LINGKUNGAN
(Community Libraries)
Beberapa bulan yang lalu kami membaca salah satu 'contoh aktivitas menulis' untuk ujian bahasa Inggris yang sebagai standar bahasa Inggris internasional: "Discuss the benefits and weaknesses of your local library" (Membahas keuntungan dan kekurangan perpustakaan lokal anda). Ujian ini disebut adalah 'bebas dari "bias" (pengaruh) kebudayaan'. Tetapi waktu kami mencoba bertanya beberapa orang Indonesia "Di mana perpustakaan lokal anda?" tidak ada satupun yang dapat menjawab. Perpustakaan Lokal (Lingkunan) atau "Community Libraries" kelihatannya tidak ada, atau kalau ada masyarakat secara umum tidak menggunakan perpustakaan-perpustakaan itu sampai tidak tahu di mana perpustakaannya.
Mengapa pertanyaan begini dapat muncul di ujian internasional?
Secara internasional perpustakaan lingkungan sebagai kebiasaan, termasuk di negara yang sedang berkembang. Kalau begitu, mengapa masyarakat tidak biasa menggunakan perpustakaan lingkungan di Indonesia. Mengapa perpustakaan lingkungan yang biasannya sebagai pusat untuk informasi lingkungan dan sumber pinjam buku-buku gratis tidak sebagai hal penting di Indonesia? Di mana masyarakat dapat pinjam buku-buku gratis, bagaimana mereka dapat terus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya?
Seperti perpustakaan sekolah, dan di luar negeri begitu, perpustakaan lokal dapat sebagai sumber akses ke Internet untuk masyarakat yang murah yang menyediakan bantuan karyawan yang sudah akli mencari informasi, di banding dengan warnet biasa di mana staf biasannya tidak berpendidikan tinggi atau memiliki keaklian mencari informasi.
PERPUSTAKAAN ONLINE
(Perpustakaan Digital)
Seperti kami sudah menyebut di atas: 'Perpustakaan Online tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis". Ref: Buku Sekolah Elektronik (BSE).
Ref: "Kebijakan buku elektonik (e-book) dinilai tidak efektif" (Forum Guru FGII)
Perpustakaan Online adalah lebih cocok untuk mahasiswa-mahasiswi supaya mereka dapat mencari dan pesan buku di perpustakaan kampus mereka (yang koleksi buku besar). Perpustakaan Online juga bagus untuk mahasiswa-mahasiswi yang melaksanakan penelitian dan mencari sumber dan "reference" secara luas di kampus-kampus lain, di perpustakaan tingkat nasional, atau di perpustakaan di luar negeri.
http://pendidikan.net/perpustakaan.html
Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?
Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:
1. Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
2. Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
3. Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
4. Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
5. Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
6. Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
7. Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
8. Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.
Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !
Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.
Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.
Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!
Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.
Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.
Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.
Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.
Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.
Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).
"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".
Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.
PERPUSTAKAAN LINGKUNGAN
(Community Libraries)
Beberapa bulan yang lalu kami membaca salah satu 'contoh aktivitas menulis' untuk ujian bahasa Inggris yang sebagai standar bahasa Inggris internasional: "Discuss the benefits and weaknesses of your local library" (Membahas keuntungan dan kekurangan perpustakaan lokal anda). Ujian ini disebut adalah 'bebas dari "bias" (pengaruh) kebudayaan'. Tetapi waktu kami mencoba bertanya beberapa orang Indonesia "Di mana perpustakaan lokal anda?" tidak ada satupun yang dapat menjawab. Perpustakaan Lokal (Lingkunan) atau "Community Libraries" kelihatannya tidak ada, atau kalau ada masyarakat secara umum tidak menggunakan perpustakaan-perpustakaan itu sampai tidak tahu di mana perpustakaannya.
Mengapa pertanyaan begini dapat muncul di ujian internasional?
Secara internasional perpustakaan lingkungan sebagai kebiasaan, termasuk di negara yang sedang berkembang. Kalau begitu, mengapa masyarakat tidak biasa menggunakan perpustakaan lingkungan di Indonesia. Mengapa perpustakaan lingkungan yang biasannya sebagai pusat untuk informasi lingkungan dan sumber pinjam buku-buku gratis tidak sebagai hal penting di Indonesia? Di mana masyarakat dapat pinjam buku-buku gratis, bagaimana mereka dapat terus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya?
Seperti perpustakaan sekolah, dan di luar negeri begitu, perpustakaan lokal dapat sebagai sumber akses ke Internet untuk masyarakat yang murah yang menyediakan bantuan karyawan yang sudah akli mencari informasi, di banding dengan warnet biasa di mana staf biasannya tidak berpendidikan tinggi atau memiliki keaklian mencari informasi.
PERPUSTAKAAN ONLINE
(Perpustakaan Digital)
Seperti kami sudah menyebut di atas: 'Perpustakaan Online tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis". Ref: Buku Sekolah Elektronik (BSE).
Ref: "Kebijakan buku elektonik (e-book) dinilai tidak efektif" (Forum Guru FGII)
Perpustakaan Online adalah lebih cocok untuk mahasiswa-mahasiswi supaya mereka dapat mencari dan pesan buku di perpustakaan kampus mereka (yang koleksi buku besar). Perpustakaan Online juga bagus untuk mahasiswa-mahasiswi yang melaksanakan penelitian dan mencari sumber dan "reference" secara luas di kampus-kampus lain, di perpustakaan tingkat nasional, atau di perpustakaan di luar negeri.
http://pendidikan.net/perpustakaan.html
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
Pendidikan Masih Tertinggal, Syafrizal: Sarana dan Prasarana Masih Minim
Wednesday, 01 August 2007
Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Dengan meningkatnya mutu pendidikan di satu daerah maka akan lahir SDM berkualitas yang akan menjadi motor penggerak pembangunan. Di bidang pendidikan, Kabupaten Solok Selatan masih tertinggal dibanding daerah lainnya di Sumbar, baik dibidang infrastruktur maupun mutu.
Permasalahan pendidikan di Solok Selatan ini diungkapkan Bupati Solok Selatan Syafrizal J, Jumat (27/7) saat menerima kunjungan kerja rombongan direktorat Jenderal (Dirjen) Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK). Rombongan Dirjen PMPTK ini terdiri dari 3 Kepala PPPPTK dan 1 orang Kasubdit, yaitu Hery Sukarman, MSc (IPA Bandung), Dr. Muhammad Hatta (Bahasa Jakarta), Drs. Kasman (Matematika Yogyakarta), Ir. Hendarman, MSC, Ph.A (Kasubdit program direktorat pendidikan dan pelatihan).Dalam paparannya Syafrizal mengatakan, permasalahan pendidikan di Solok Selatan masih berkutat oleh masih minimnya sarana dan prasarana. Selain itu Solok Selatan juga masih kekurangan dibidang tenaga pengajar, “Permasalahan kekurangan sarana dan tenaga pengajar ini tentunya berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan, dan kami berharap dengan kedatangan rombongan Dirjen PMPTK maka persoalan bidang pendidikan di Solok Selatan ini dapat menjadi bahan bagi Departemen Pendidikan Nasional untuk diprioritaskan penyelesaiannya,” ungkapnya.
Kekurangan tenaga dibidang pendidikan ini menurut Syafrizal, antara lain tenaga kependidikan untuk tata usaha, pengolah data (computer), pustakawan dan tenaga labor. Sementara itu pada bangunan fisik seperti labor dan ruang perpustakaan juga serba kekurangan. Untuk tingkat SLTA dari 12 SLTA yang ada belum satupun yang memiliki perpustakaan yang representative termasuk peralatannya. Pada tingkat SLTP, dengan jumlah sekolah sebanyak 28 buah juga belum dengan perpustakaan.Sedangkan di SMK yang terdiri dari beberapa rumpun diantaranya teknologi, pertanian, peternakan, administrasi, masih banyak kekurangan sarana pembelajaran untuk pendukung seperti peralatan labor, alat praktek dan lain-lain. Sarana lain untuk peningkatan mutu seperti ketersediaan labor biologi, kimia, fisika dan computer masih banyak sekolah yang belum memilikinya.
Di bidang bangunan fisik, juga masih memerlukan perbaikan dan penyelesaian rehabilitasi gedung sekolah. Sementara kita terus dituntut untuk menuntaskan wajar 9 tahun peningkatan kwalifikasi guru, pendidikan luar sekolah (PLS), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan penuntasan buta aksara. Semua ini merupakan prioritas penting dan penyelesaian persoalan di dunia pendidikan. Kunjungan kerja rombongan Dirjen tersebut dihadiri oleh kurang lebih 424 orang kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA serta kepala UPTD Pendidikan dan pengawas Bupati berharap ketertinggalan kabupaten Solok Selatan dibidang pendidikan ini, dapat dijadikan cambuk bagi stakeholder yang berperan dalam menan gain masalah pendidikan terutama dinas pendidikan. (*)
Salamat, SHi, Ketua Komisi B DPRD Solok Selatan Kelola Dengan Tenaga Yang Berkompeten
BELUM kompetitifnya bidang pendidikan Solok Selatan saat ini bukan hanya disebabkan oleh masih minimnya sarana prasarana dan kurangnya tenaga pengajar. Tapi juga disebabkan oleh manajereal bidang pendidikan yang belum maksimal.
Hal ini terbukti dengan pengelolaan anggaran yang masih sering lamban dan pengelolaan data base kepegawaian bidang pendidikan yang masih kurang baik.Dalam pendataan ini dinas pendidikan seharusnya telah memiliki data yang valid dengan pola up to date yang terencana. Sehingganya, pemetaan kepegawaian bisa terpantau.
Jika hal ini bisa dilaksanakan dengan baik maka tidak ada lagi penumpukan tenaga guru di satu sekolah, sedangkan sekolah yang lain kekurangan. Dalam program pembangunan yang melalui proses tender, proyek-proyek pembangunan fisik masih juga terdapat proyek terbengkalai. Terbengkalainya pembangunan fisik tak hanya kesalahan dari para kontraktor tetapi juga dari sistem pengawasan yang lemah. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah dalam setiap kegiatan, diharapkan kepada pihak eksekutif yang berwenang mengambil kebijakan untuk dapat menempatkan pimpinan kegiatan yang berkompeten dibidangnya. (mg6)
http://www.solok-selatan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=669&Itemid=1
Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Dengan meningkatnya mutu pendidikan di satu daerah maka akan lahir SDM berkualitas yang akan menjadi motor penggerak pembangunan. Di bidang pendidikan, Kabupaten Solok Selatan masih tertinggal dibanding daerah lainnya di Sumbar, baik dibidang infrastruktur maupun mutu.
Permasalahan pendidikan di Solok Selatan ini diungkapkan Bupati Solok Selatan Syafrizal J, Jumat (27/7) saat menerima kunjungan kerja rombongan direktorat Jenderal (Dirjen) Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK). Rombongan Dirjen PMPTK ini terdiri dari 3 Kepala PPPPTK dan 1 orang Kasubdit, yaitu Hery Sukarman, MSc (IPA Bandung), Dr. Muhammad Hatta (Bahasa Jakarta), Drs. Kasman (Matematika Yogyakarta), Ir. Hendarman, MSC, Ph.A (Kasubdit program direktorat pendidikan dan pelatihan).Dalam paparannya Syafrizal mengatakan, permasalahan pendidikan di Solok Selatan masih berkutat oleh masih minimnya sarana dan prasarana. Selain itu Solok Selatan juga masih kekurangan dibidang tenaga pengajar, “Permasalahan kekurangan sarana dan tenaga pengajar ini tentunya berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan, dan kami berharap dengan kedatangan rombongan Dirjen PMPTK maka persoalan bidang pendidikan di Solok Selatan ini dapat menjadi bahan bagi Departemen Pendidikan Nasional untuk diprioritaskan penyelesaiannya,” ungkapnya.
Kekurangan tenaga dibidang pendidikan ini menurut Syafrizal, antara lain tenaga kependidikan untuk tata usaha, pengolah data (computer), pustakawan dan tenaga labor. Sementara itu pada bangunan fisik seperti labor dan ruang perpustakaan juga serba kekurangan. Untuk tingkat SLTA dari 12 SLTA yang ada belum satupun yang memiliki perpustakaan yang representative termasuk peralatannya. Pada tingkat SLTP, dengan jumlah sekolah sebanyak 28 buah juga belum dengan perpustakaan.Sedangkan di SMK yang terdiri dari beberapa rumpun diantaranya teknologi, pertanian, peternakan, administrasi, masih banyak kekurangan sarana pembelajaran untuk pendukung seperti peralatan labor, alat praktek dan lain-lain. Sarana lain untuk peningkatan mutu seperti ketersediaan labor biologi, kimia, fisika dan computer masih banyak sekolah yang belum memilikinya.
Di bidang bangunan fisik, juga masih memerlukan perbaikan dan penyelesaian rehabilitasi gedung sekolah. Sementara kita terus dituntut untuk menuntaskan wajar 9 tahun peningkatan kwalifikasi guru, pendidikan luar sekolah (PLS), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan penuntasan buta aksara. Semua ini merupakan prioritas penting dan penyelesaian persoalan di dunia pendidikan. Kunjungan kerja rombongan Dirjen tersebut dihadiri oleh kurang lebih 424 orang kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA serta kepala UPTD Pendidikan dan pengawas Bupati berharap ketertinggalan kabupaten Solok Selatan dibidang pendidikan ini, dapat dijadikan cambuk bagi stakeholder yang berperan dalam menan gain masalah pendidikan terutama dinas pendidikan. (*)
Salamat, SHi, Ketua Komisi B DPRD Solok Selatan Kelola Dengan Tenaga Yang Berkompeten
BELUM kompetitifnya bidang pendidikan Solok Selatan saat ini bukan hanya disebabkan oleh masih minimnya sarana prasarana dan kurangnya tenaga pengajar. Tapi juga disebabkan oleh manajereal bidang pendidikan yang belum maksimal.
Hal ini terbukti dengan pengelolaan anggaran yang masih sering lamban dan pengelolaan data base kepegawaian bidang pendidikan yang masih kurang baik.Dalam pendataan ini dinas pendidikan seharusnya telah memiliki data yang valid dengan pola up to date yang terencana. Sehingganya, pemetaan kepegawaian bisa terpantau.
Jika hal ini bisa dilaksanakan dengan baik maka tidak ada lagi penumpukan tenaga guru di satu sekolah, sedangkan sekolah yang lain kekurangan. Dalam program pembangunan yang melalui proses tender, proyek-proyek pembangunan fisik masih juga terdapat proyek terbengkalai. Terbengkalainya pembangunan fisik tak hanya kesalahan dari para kontraktor tetapi juga dari sistem pengawasan yang lemah. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah dalam setiap kegiatan, diharapkan kepada pihak eksekutif yang berwenang mengambil kebijakan untuk dapat menempatkan pimpinan kegiatan yang berkompeten dibidangnya. (mg6)
http://www.solok-selatan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=669&Itemid=1
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
Laboratorium Sekolah Autisme UM Gelar Seminar Nasional "Berdayakan ABK dan Autisme"
Selasa, 18 Maret 2008 00:27:23 - oleh : redaksi
Anak Berkebutuhan khusus (ABK) dan autisme yang selama ini sudah mendapatkan layanan pendidikan dalam sekolah inklusif kini bisa bernafas lega. Mereka diperbolehkan menempuh pendidian di sekolah reguler. Sejak tahun ajaran 2008/2009, sekolah reguler (umum) mulai dari jenjang TK, SD, SMP maupun SMA mulai membuka ruang bagi anak ABK dan autisme.
Kebijakan ini untuk mempercepat proses sosialisasi dan komunikasi kehidupan ABK dan autisme selayaknya kehidupan anak pada umumnya. “Dengan kebijakan ini, ABK dan autisme, bisa berkembang dan berprestasi sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Bahkan bila bakat mereka terus diasah, prestasinya melebihi anak pada umumnya,” tutur Kepala Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang, Sudarmi Syafii, SPd.
Sudarmi bahkan membawa bukti. “Di SD Sumbersari 1, dua anak yang dulunya menyandang status ABK dan autisme, kini malah bisa menyabet ranking 1 dan 3 di kelasnya masing-masing. Ini membuktikan bahwa sebetulnya anak ABK dan autisme sama dengan anak pada umumnya,” terangnya.
Hanya saja, tujuan mulia ini tidak akan terealisasi jika tidak diiringi dengan dukungan dan pemahaman sinergis yang baik antar stakeholders tentang penanganan terbaik terhadap ABK dan autisme.
Demi menyukseskan agenda besar tersebut, Sekolah Autisme laboratorium Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Bapemas Propinsi Jawa Timur yang didukung oleh KSDP FIP Universitas Negeri Malang serta Advokasi Gender Universitas Negeri Malang menggelar seminar nasional. Seminar ini bertema “Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Penanganan Sex Education di Usia Sekolah dan Pemberdayaan Anak Berkebutuhan Khusus” di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang Jl. Semarang Malang.
Menurut perempuan yang juga istri dari mantan Rektor UM itu, sedikitnya ada lima tujuan pokok dalam seminar yang dilangsungkan pada Sabtu 22 maret 2008 itu. Pertama, meningkatan pengetahuan dan pemahaman guru serta masyarakat tentang layanan pendidikan bagi ABK. Kedua, memberikan pengetahuan tentang kiat menanggulangi atau menyiapkan anak/siswa ABK menjelang remaja. Ketiga, membangun sistem pamong yang sejahtera lahir dan batin, baik pada sekolah regular (mainstream) maupun sekolah khusus. Keempat, memberikan pemahaman terhadap masyarakat umum tentang layanan Pendidikan ABK. Kelima, memberikan tambahan wacana, masukkan kepada pengambil kebijakan pendidikan tentang kebutuhan ABK. Keenam, memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum dan guru dari jenjang TK sampai SMA.
Acara itu sendiri akan dihadiri beberapa tokoh penting dan representatif dalam membincangkan ABK dan autisme. Di antaranya, dalam materi yang bertajuk “Pemberdayaan ABK di Usia Remaja dan Dewasa” akan diampu oleh Dr Soenyono, SH, MSi yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bapemas propinsi Jawa Timur. Kemudian Kasubdit Program Dit. PSLB, Ir. Winarno Sutrisno, MM akan berbicara banyak mengenai materi “perencanaan dan pengembangan direktorat PSLB dalam layanan Pendidikan ABK. Sedang materi “Edukasi Seksual bagi Anak Usia Sekolah” akan dibahas tuntas dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja, Dr dr Sasanti Yuniar, SpKj.
Yang ingin mengikuti seminar ini, kata Sudarmi, hanya dikenakan biaya Rp 75 ribu untuk mahasiswa dan Rp. 100 ribu untuk umum. Peserta akan mendapat map, makalah, sertifikat, snack dan makan siang.
Seminar ini sangat cocok untuk para guru (SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SMK), para terapis ABK, pemerhati pendidikan. Selain itu, orang tua siswa/masyarakat umum, serta mahasiswa jurusan pendidikan juga bisa mengikuti seminar ini. “Bahkan, bagi peserta luar kota Malang, kami menyediakan wisma atau penginapan dengan harga terjangkau”.
Yang masih memerlukan informasi lebih lengkap, silakan saja datang ke Sekretariat di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang Jl. Surabaya 6 Malang dengan telpon (0341) 566523. “Bisa juga menghubungi Bu Atik di 08885586866 dan Luthan di 0811360638 atau 03416364213,” tambah Dr Ruminiyati, MSi selaku ketua panitia.
Ruminiyati juga berharap kegiatan seperti ini perlu didukung terus mengingat masih rendahnya apresiasi positif masyarakat terhadap keberadaan anak ABK dan autisme di kota Malang. (*)
Sumber : http://www.koranpendidikan.com/artikel-613.html
Anak Berkebutuhan khusus (ABK) dan autisme yang selama ini sudah mendapatkan layanan pendidikan dalam sekolah inklusif kini bisa bernafas lega. Mereka diperbolehkan menempuh pendidian di sekolah reguler. Sejak tahun ajaran 2008/2009, sekolah reguler (umum) mulai dari jenjang TK, SD, SMP maupun SMA mulai membuka ruang bagi anak ABK dan autisme.
Kebijakan ini untuk mempercepat proses sosialisasi dan komunikasi kehidupan ABK dan autisme selayaknya kehidupan anak pada umumnya. “Dengan kebijakan ini, ABK dan autisme, bisa berkembang dan berprestasi sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Bahkan bila bakat mereka terus diasah, prestasinya melebihi anak pada umumnya,” tutur Kepala Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang, Sudarmi Syafii, SPd.
Sudarmi bahkan membawa bukti. “Di SD Sumbersari 1, dua anak yang dulunya menyandang status ABK dan autisme, kini malah bisa menyabet ranking 1 dan 3 di kelasnya masing-masing. Ini membuktikan bahwa sebetulnya anak ABK dan autisme sama dengan anak pada umumnya,” terangnya.
Hanya saja, tujuan mulia ini tidak akan terealisasi jika tidak diiringi dengan dukungan dan pemahaman sinergis yang baik antar stakeholders tentang penanganan terbaik terhadap ABK dan autisme.
Demi menyukseskan agenda besar tersebut, Sekolah Autisme laboratorium Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Bapemas Propinsi Jawa Timur yang didukung oleh KSDP FIP Universitas Negeri Malang serta Advokasi Gender Universitas Negeri Malang menggelar seminar nasional. Seminar ini bertema “Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Penanganan Sex Education di Usia Sekolah dan Pemberdayaan Anak Berkebutuhan Khusus” di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang Jl. Semarang Malang.
Menurut perempuan yang juga istri dari mantan Rektor UM itu, sedikitnya ada lima tujuan pokok dalam seminar yang dilangsungkan pada Sabtu 22 maret 2008 itu. Pertama, meningkatan pengetahuan dan pemahaman guru serta masyarakat tentang layanan pendidikan bagi ABK. Kedua, memberikan pengetahuan tentang kiat menanggulangi atau menyiapkan anak/siswa ABK menjelang remaja. Ketiga, membangun sistem pamong yang sejahtera lahir dan batin, baik pada sekolah regular (mainstream) maupun sekolah khusus. Keempat, memberikan pemahaman terhadap masyarakat umum tentang layanan Pendidikan ABK. Kelima, memberikan tambahan wacana, masukkan kepada pengambil kebijakan pendidikan tentang kebutuhan ABK. Keenam, memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum dan guru dari jenjang TK sampai SMA.
Acara itu sendiri akan dihadiri beberapa tokoh penting dan representatif dalam membincangkan ABK dan autisme. Di antaranya, dalam materi yang bertajuk “Pemberdayaan ABK di Usia Remaja dan Dewasa” akan diampu oleh Dr Soenyono, SH, MSi yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bapemas propinsi Jawa Timur. Kemudian Kasubdit Program Dit. PSLB, Ir. Winarno Sutrisno, MM akan berbicara banyak mengenai materi “perencanaan dan pengembangan direktorat PSLB dalam layanan Pendidikan ABK. Sedang materi “Edukasi Seksual bagi Anak Usia Sekolah” akan dibahas tuntas dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja, Dr dr Sasanti Yuniar, SpKj.
Yang ingin mengikuti seminar ini, kata Sudarmi, hanya dikenakan biaya Rp 75 ribu untuk mahasiswa dan Rp. 100 ribu untuk umum. Peserta akan mendapat map, makalah, sertifikat, snack dan makan siang.
Seminar ini sangat cocok untuk para guru (SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SMK), para terapis ABK, pemerhati pendidikan. Selain itu, orang tua siswa/masyarakat umum, serta mahasiswa jurusan pendidikan juga bisa mengikuti seminar ini. “Bahkan, bagi peserta luar kota Malang, kami menyediakan wisma atau penginapan dengan harga terjangkau”.
Yang masih memerlukan informasi lebih lengkap, silakan saja datang ke Sekretariat di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang Jl. Surabaya 6 Malang dengan telpon (0341) 566523. “Bisa juga menghubungi Bu Atik di 08885586866 dan Luthan di 0811360638 atau 03416364213,” tambah Dr Ruminiyati, MSi selaku ketua panitia.
Ruminiyati juga berharap kegiatan seperti ini perlu didukung terus mengingat masih rendahnya apresiasi positif masyarakat terhadap keberadaan anak ABK dan autisme di kota Malang. (*)
Sumber : http://www.koranpendidikan.com/artikel-613.html
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
Miskonsepsi Buku Ajar Sains di SD
Selasa, 17 Februari 2009 19:48:36 - oleh : redaksi
ANIK SUSANTI *)
Belajar sains adalah belajar mengenai fakta-fakta kehidupan di alam ini, untuk mengetahui apa, bagaimana, untuk apa dan mengapa akan sangat efektif jika seorang siswa menemukan sendiri melalui pengalamannya untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep dengan diskusi atau penemuan. Konsep sangat dominan berperan dalam sebuah pengajaran karena itu titik yang harus diketahui siswa agar dapat berlanjut ke materi berikutnya. Tidak mungkin bukan kalau kita mengetahui macam-macam sumber daya alam yang dapat diperbaharui ataupun tidak dapat diperbaharui kalau kita belum tahu konsep mengenai sumber daya alam itu sendiri. Pada dasarnya apakah sebuah konsep itu? Setelah saya sempatkan membaca di beberapa buku dan karya ilmiah saya menemukan sebuah definisi yang tidak jauh berbeda. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Menurut Rosser (1984), konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut sama. Oleh karena seseorang mengalami stimulus-stimulus (respons) yang berbeda maka konsep yang akan ia bentuk sesuai dengan stimulus yang diterima. Karena konsep merupakan pemikiran yang berdasarkan pengalaman dan tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang sama persis.
Kurikulum dan bahan ajar mempunyai peran penting dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman, sedang buku teks pelajaran sebagai salah satu sumber bacaan. Meski buku teks sains untuk SD sudah dibuat sesuai kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP), namun masih ditemukan beberapa kesalahan yang kebanyakan disebabkan oleh kekurang-telitian penulis, penyuntingan, dan pencetakan.
Kesalahan ini bisa membahayakan sebab bisa menyebabkan kesalahan konsep (miskonsepsi). Contoh yang paling sering dijumpai, dalam buku ajar ini amphibi disebut sebagai hewan yang dapat hidup di dua alam misalnya katak. Padahal katak digolongkan ke dalam hewan amphibi karena dalam daur hidupnya mengalami perubahan alat pernafasan dari insang ke paru-paru dan kulit.
Contoh lain disebutkan bila hanya tumbuhan berhijau daun (yang memiliki klorofil) yang mampu melakukan fotosintesis. Padahal beberapa tumbuhan yang kebetulan memiliki zat warna tidak hijau juga mampu melakukan fotosintesis seperti tumbuhan Sirih Merah. Tumbuhan ini memiliki zat warna daun yang disebut redhopil, demikian juga dengan tumbuhan yang memiliki xantophil.
Masih seputar tumbuhan hijau, ada buku ajar sains SD yang menuliskan bahwa klorofil terdapat di daun saja. Padahal dalam sebuah tumbuhan klorofil ini bisa terdapat dimana saja dan menyebar ke seluruh tubuh tumbuhan seperti di batang contoh Bayam dan Kaktus, di buah contoh Pisang dan Semangka jadi zat warna hijau (klorofil) tidak hanya terdapat di daun.
Jika kita beralih pada bab sumber daya alam, akan ditemukan beberapa buku yang menyebutkan bahwa tanah adalah termasuk salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Tanah itu terdiri dari beberapa unsur dan lapisan-lapisan, di mana kesemua bagian memerlukan proses yang yang panjang untuk terbentuk menjadi tanah seperti sekarang.
Ini dapat terjadi karena tanah terbentuk dari bongkahan batu yang melebur yang prosesnya bisa sampai berjuta-juta tahun. Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa tanah tak ubahnya seperti bahan tambang yang harus tetap dipelihara keberadaannya. Sedangkan yang bisa diperbaharui dari tanah adalah kesuburannya yang dapat diupayakan dengan memberi pupuk atau menyiraminya.
Ada banyak buku yang dapat kita kaji untuk bahan mengajar atau belajar kita, baik sebagai guru maupun siswa. Namun sebagai seorang pendidik sebaiknya kita teliti memilah-milah buku dan penerbit yang baik untuk kita pakai produknya. Dan akan sangat efektif jika seorang guru membuat sendiri modul sebagai bahan pedoman mengajar. Tentu saja dengan menggunakan bahan acuan buku yang bermutu.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/2627/miskonsepsi-buku-ajar-sains-di-sd.html
ANIK SUSANTI *)
Belajar sains adalah belajar mengenai fakta-fakta kehidupan di alam ini, untuk mengetahui apa, bagaimana, untuk apa dan mengapa akan sangat efektif jika seorang siswa menemukan sendiri melalui pengalamannya untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep dengan diskusi atau penemuan. Konsep sangat dominan berperan dalam sebuah pengajaran karena itu titik yang harus diketahui siswa agar dapat berlanjut ke materi berikutnya. Tidak mungkin bukan kalau kita mengetahui macam-macam sumber daya alam yang dapat diperbaharui ataupun tidak dapat diperbaharui kalau kita belum tahu konsep mengenai sumber daya alam itu sendiri. Pada dasarnya apakah sebuah konsep itu? Setelah saya sempatkan membaca di beberapa buku dan karya ilmiah saya menemukan sebuah definisi yang tidak jauh berbeda. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Menurut Rosser (1984), konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut sama. Oleh karena seseorang mengalami stimulus-stimulus (respons) yang berbeda maka konsep yang akan ia bentuk sesuai dengan stimulus yang diterima. Karena konsep merupakan pemikiran yang berdasarkan pengalaman dan tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang sama persis.
Kurikulum dan bahan ajar mempunyai peran penting dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman, sedang buku teks pelajaran sebagai salah satu sumber bacaan. Meski buku teks sains untuk SD sudah dibuat sesuai kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP), namun masih ditemukan beberapa kesalahan yang kebanyakan disebabkan oleh kekurang-telitian penulis, penyuntingan, dan pencetakan.
Kesalahan ini bisa membahayakan sebab bisa menyebabkan kesalahan konsep (miskonsepsi). Contoh yang paling sering dijumpai, dalam buku ajar ini amphibi disebut sebagai hewan yang dapat hidup di dua alam misalnya katak. Padahal katak digolongkan ke dalam hewan amphibi karena dalam daur hidupnya mengalami perubahan alat pernafasan dari insang ke paru-paru dan kulit.
Contoh lain disebutkan bila hanya tumbuhan berhijau daun (yang memiliki klorofil) yang mampu melakukan fotosintesis. Padahal beberapa tumbuhan yang kebetulan memiliki zat warna tidak hijau juga mampu melakukan fotosintesis seperti tumbuhan Sirih Merah. Tumbuhan ini memiliki zat warna daun yang disebut redhopil, demikian juga dengan tumbuhan yang memiliki xantophil.
Masih seputar tumbuhan hijau, ada buku ajar sains SD yang menuliskan bahwa klorofil terdapat di daun saja. Padahal dalam sebuah tumbuhan klorofil ini bisa terdapat dimana saja dan menyebar ke seluruh tubuh tumbuhan seperti di batang contoh Bayam dan Kaktus, di buah contoh Pisang dan Semangka jadi zat warna hijau (klorofil) tidak hanya terdapat di daun.
Jika kita beralih pada bab sumber daya alam, akan ditemukan beberapa buku yang menyebutkan bahwa tanah adalah termasuk salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Tanah itu terdiri dari beberapa unsur dan lapisan-lapisan, di mana kesemua bagian memerlukan proses yang yang panjang untuk terbentuk menjadi tanah seperti sekarang.
Ini dapat terjadi karena tanah terbentuk dari bongkahan batu yang melebur yang prosesnya bisa sampai berjuta-juta tahun. Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa tanah tak ubahnya seperti bahan tambang yang harus tetap dipelihara keberadaannya. Sedangkan yang bisa diperbaharui dari tanah adalah kesuburannya yang dapat diupayakan dengan memberi pupuk atau menyiraminya.
Ada banyak buku yang dapat kita kaji untuk bahan mengajar atau belajar kita, baik sebagai guru maupun siswa. Namun sebagai seorang pendidik sebaiknya kita teliti memilah-milah buku dan penerbit yang baik untuk kita pakai produknya. Dan akan sangat efektif jika seorang guru membuat sendiri modul sebagai bahan pedoman mengajar. Tentu saja dengan menggunakan bahan acuan buku yang bermutu.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/2627/miskonsepsi-buku-ajar-sains-di-sd.html
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA
Judul: REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian SEKOLAH / SCHOOLS.
Nama & E-mail (Penulis): HIDAYAT RAHARJA, S.Pd.
Saya Guru di SMA NEGERI 1 SUMENEP
Topik: TEKNOLOGI HANDPHONE
Tanggal: 3 DESEMBER 2008
REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE Dan DUNIA PENDIDIKAN KITA
Oleh: Hidayat Raharja*
Revolusi teknologi komunikasi berkembang demikian pesat, selalu mengalami inovasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, kenyamanan, dan hiburan. Teknologi sebagai hasil aplikasi sains tidak dapat diingkari telah memberikan aneka dampak bagi kehidupan manusia. Dengan aneka bentuk dan produknya teknologi mampu meringankan tugas manusia, serta meniscayakan untuk men ingkatkan kesejahteraan manusia.
Bentangan jarak antar benua berkat kemajuan teknologi selluler dapat diperpendek dengan jalur komunikasi yang sangat luas. Bahkan dengan generasi terbaru - 3G - komunikasi antar personal dapat pula disaksikan wajah antara komunikan dan komunikator.
Untuk kenyamanan dan melayani kebutuhan Konsumen beberapa produsen memproduksi aneka jenis handphone dengan aneka fasilitas yang disediakan sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Radio FM, Kamera digital, Video, televisi telah teraplikasi dalam perangkat handphone. Kemajuan teknologi yang memanjakan kosnsumennya.
Dalam dunia pendidikan perkembangan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menjadi sebuah fenomena yang menuntut dan mengharuskan pada stakeholder dan pelaku pendidikan untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi informasi, serta menerapkannya dalam dunia pendidikan.
Abad teknologi, sebuah era yang tidak memungkinkan bagi manusia untuk menghindari dan mengabaikannya. Komputer, LCD / infocus, video, internet, sebagian dari produk teknologi informasi, saat ini bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai media dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
Eksplorasi terhadap fasilitas yang tersaedia dalam perangkat teknologi dan layanan kartu selluler, membuka eksplorasi terhadap luasnya dunia pengetahuan. Perangkat yang mudah didapat dengan aneka fasilitas yang memungkinkan untuk memberikan layanan internal institusi atau lembaga pendidikan, serta antar individu; murid dengan murid, guru dengan murid atau sebaliknya.
Perkembangannya Handphone semakin dilengkapi dengan aneka fasilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen, kenyamanan, dan kesenangan yang menyenangkan. Aneka fasilitas mulai dari mms, radio fm, internet, tv, mp3, vodeo, kamera digital adalah perkembangan fasilitas yang diaplikasikan dalam perangkat handphone.
Selama ini aneka fasilitas yang teraplikasi dalam peramghkat handphone, masih digujnakan sebatas hiburan untuik mengisi waktu senggang, dan semacamnya. Persepsi yang kemudian memunculkan stigma negatif terhadap handphone di dunia pendidikan. Handphone selalu dikonotasikan membawa dampak negatif bagi kehidupan remaja atau pelajar.
Pada hal dalam sebuah survey kecil dalam sebuah acara tlkshow di metrotv yang mengundang beberapa kalnangan dari berbagai profesi, ternyata yang membuka gambar porno lewat handphone juga dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dan beberapa kalangan profesional,, di samping juga disitu terungkap beberapa pelajar melihat foto porno bukan karena kehendaknya, tetapi dikirimi temannya, karena fasilitas handphone yang memungkinkan untuk menerima kiriman semacam itu.
Fasilitas yang tersedia dalam layanan selluler , merupakan pisau bermata dua ; bermanfaat jika arif dan bijak dalam memanfaatkannya, sekaligus mencelakakan jika lalai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Semisal; pertama betapa banyak korban yang tertipu layanan sms berhadiah. Kecerobohan yang disebabkan kehilangan akal sehat, ingin mendapatkan sesuatu (hadiah) tanpa harus bersusah payah. Kondisi yang kemudian dmanfaatkan para pemilik modal dengan memanfaatkan artis, agamawan, tukang ramal (paranormal) untuk memberikan layanan sms melalui call sentre dengan tarif yang mahal atau tak wajar, antara Rp.2.000 - 3.000 / sms. Anehnya tawaran semacam itu masih banyak pengkikutnya, penanda makin kuatnya instansi kehidupan dalam sebuah gaya hidup skeptis dan fragmatis.
Juga tidak sedikit waktu guru terbuang di kelas saat melaksanakan pembelajaran karena sibuk ber sms dengan seseorang dan bahkan menerima panggilan di saat mengajar di kelas. Sebuah lanskap yang kurang etis dipandang dari sudut pendidikan etika, karena guru memberikan contoh yang tidak baik. Sebaiknya saat aktif mengjaar di kelas handphone harus dalam keadaan non aktif (off) atau kalau pun aktif memakai sinyal getar dan menjawab panggilan dilakukan di luarv kelas denganb meminta ijin terhadap kelas yang ditinggalkan. Sayang, memang kalau teknologi komunikasi yang masuk ke dalam ruang belajar tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran.
Akan sangat berbeda apabila fasilitas layanan short message service (SMS) dipergunakan untuk memberikan layanan bagi peserta didik untuk melakukan remedial atau perbaikan pembelajaran yang
http://re-searchengines.com/hidayat1208.html
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian SEKOLAH / SCHOOLS.
Nama & E-mail (Penulis): HIDAYAT RAHARJA, S.Pd.
Saya Guru di SMA NEGERI 1 SUMENEP
Topik: TEKNOLOGI HANDPHONE
Tanggal: 3 DESEMBER 2008
REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE Dan DUNIA PENDIDIKAN KITA
Oleh: Hidayat Raharja*
Revolusi teknologi komunikasi berkembang demikian pesat, selalu mengalami inovasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, kenyamanan, dan hiburan. Teknologi sebagai hasil aplikasi sains tidak dapat diingkari telah memberikan aneka dampak bagi kehidupan manusia. Dengan aneka bentuk dan produknya teknologi mampu meringankan tugas manusia, serta meniscayakan untuk men ingkatkan kesejahteraan manusia.
Bentangan jarak antar benua berkat kemajuan teknologi selluler dapat diperpendek dengan jalur komunikasi yang sangat luas. Bahkan dengan generasi terbaru - 3G - komunikasi antar personal dapat pula disaksikan wajah antara komunikan dan komunikator.
Untuk kenyamanan dan melayani kebutuhan Konsumen beberapa produsen memproduksi aneka jenis handphone dengan aneka fasilitas yang disediakan sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Radio FM, Kamera digital, Video, televisi telah teraplikasi dalam perangkat handphone. Kemajuan teknologi yang memanjakan kosnsumennya.
Dalam dunia pendidikan perkembangan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menjadi sebuah fenomena yang menuntut dan mengharuskan pada stakeholder dan pelaku pendidikan untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi informasi, serta menerapkannya dalam dunia pendidikan.
Abad teknologi, sebuah era yang tidak memungkinkan bagi manusia untuk menghindari dan mengabaikannya. Komputer, LCD / infocus, video, internet, sebagian dari produk teknologi informasi, saat ini bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai media dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
Eksplorasi terhadap fasilitas yang tersaedia dalam perangkat teknologi dan layanan kartu selluler, membuka eksplorasi terhadap luasnya dunia pengetahuan. Perangkat yang mudah didapat dengan aneka fasilitas yang memungkinkan untuk memberikan layanan internal institusi atau lembaga pendidikan, serta antar individu; murid dengan murid, guru dengan murid atau sebaliknya.
Perkembangannya Handphone semakin dilengkapi dengan aneka fasilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen, kenyamanan, dan kesenangan yang menyenangkan. Aneka fasilitas mulai dari mms, radio fm, internet, tv, mp3, vodeo, kamera digital adalah perkembangan fasilitas yang diaplikasikan dalam perangkat handphone.
Selama ini aneka fasilitas yang teraplikasi dalam peramghkat handphone, masih digujnakan sebatas hiburan untuik mengisi waktu senggang, dan semacamnya. Persepsi yang kemudian memunculkan stigma negatif terhadap handphone di dunia pendidikan. Handphone selalu dikonotasikan membawa dampak negatif bagi kehidupan remaja atau pelajar.
Pada hal dalam sebuah survey kecil dalam sebuah acara tlkshow di metrotv yang mengundang beberapa kalnangan dari berbagai profesi, ternyata yang membuka gambar porno lewat handphone juga dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dan beberapa kalangan profesional,, di samping juga disitu terungkap beberapa pelajar melihat foto porno bukan karena kehendaknya, tetapi dikirimi temannya, karena fasilitas handphone yang memungkinkan untuk menerima kiriman semacam itu.
Fasilitas yang tersedia dalam layanan selluler , merupakan pisau bermata dua ; bermanfaat jika arif dan bijak dalam memanfaatkannya, sekaligus mencelakakan jika lalai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Semisal; pertama betapa banyak korban yang tertipu layanan sms berhadiah. Kecerobohan yang disebabkan kehilangan akal sehat, ingin mendapatkan sesuatu (hadiah) tanpa harus bersusah payah. Kondisi yang kemudian dmanfaatkan para pemilik modal dengan memanfaatkan artis, agamawan, tukang ramal (paranormal) untuk memberikan layanan sms melalui call sentre dengan tarif yang mahal atau tak wajar, antara Rp.2.000 - 3.000 / sms. Anehnya tawaran semacam itu masih banyak pengkikutnya, penanda makin kuatnya instansi kehidupan dalam sebuah gaya hidup skeptis dan fragmatis.
Juga tidak sedikit waktu guru terbuang di kelas saat melaksanakan pembelajaran karena sibuk ber sms dengan seseorang dan bahkan menerima panggilan di saat mengajar di kelas. Sebuah lanskap yang kurang etis dipandang dari sudut pendidikan etika, karena guru memberikan contoh yang tidak baik. Sebaiknya saat aktif mengjaar di kelas handphone harus dalam keadaan non aktif (off) atau kalau pun aktif memakai sinyal getar dan menjawab panggilan dilakukan di luarv kelas denganb meminta ijin terhadap kelas yang ditinggalkan. Sayang, memang kalau teknologi komunikasi yang masuk ke dalam ruang belajar tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran.
Akan sangat berbeda apabila fasilitas layanan short message service (SMS) dipergunakan untuk memberikan layanan bagi peserta didik untuk melakukan remedial atau perbaikan pembelajaran yang
http://re-searchengines.com/hidayat1208.html
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
memfungsikan laboratorium komputer sebagai laboratorium bahasa
Memiliki laboratorium bahasa terutama laboratorium bahasa yang mendukung Audio Visual untuk mendukung pembelajaran bahasa (terutama bahasa asing) bagi siswa merupakan impian bagi semua sekolah, terlebih bagi guru bidang mata pelajaran bahasa. Namun sayang karena biaya untuk pengadaan perangkat laboratorium bahasa sangat mahal maka tidak semua sekolah dapat memiliki laboratorium bahasa. Namun sebenarnya dengan teknologi jaringan komputer khususnya teknologi Voice Over Internet Protocol (VoIP) laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa. Sebagaimana kita ketahui dijadikannya teknologi informasi dan komputer (TIK) sebagai mata pelajaran wajib di sekolah mulai dari jenjang SMP maka hampir semua sekolah memiliki laboraotrium komputer. Oleh karena itu memiliki laboratorium bahasa sebenarnya bukan hanya impian bagi semua sekolah, tapi merupakan hal yang sangat mudah dimiliki.
Agar laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa maka laboratorium komputer harus terhubung dalam suatu jaringan (LAN / Local Area Network), kemudian diperlukan juga software untuk mendukung VoIP, dan headset (Microphone dan Headphone) pada setiap komputer. Jika laboratorium komputer di sekolah belum terhubung (belum di-LAN-kan) maka sekolah perlu menyediakan perangkat jaringan yaitu :
- LANCard untuk setiap komputer
- Connector RJ45 (2 buah per komputer)
- Kabel UTP
- Hub / Switch
Biaya untuk pengadaan perangkat ini tidak terlalu besar, yakni LANCard harganya sekitar Rp. 50.000,00/buah, RJ45 Rp. 1.500,00/buah, Kabel UTP sekitar Rp. 2.500,00/meter, dan Hub/Switch harganya berkisar antara Rp. 300.000,00 s/d Rp. 700.000,00. Setelah tersedia perangkat-perangkat jaringan maka sekolah dapat memasang jaringan dengan menggunakan jasa orang yang ahli dalam pemasangan jaringan.
Jika komputer-komputer di laboratorium sudah terhubung dalam LAN, maka selanjutnya tinggal memasang perangkat lunak untuk mendukung VoIP. Terdapat banyak perangkat lunak untuk mendukung VoIP yang dapat di-download di internet seperti Ventrilo, SpeakFreely, Netphone, dsb. Setelah perngkat lunak tersebut dipasang pada setiap komputer maka laboratorium komputer kini dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa.
Beberapa perangkat lunak menyediakan fasilitas yang dapat memfungsikan sebuah komputer sebagai Server yang dapat mengelola komunikasi komputer yang lainnya, misalnya Ventrillo. Ventrillo juga menyediakan fasilitas “Teks to Speak”, yaitu suatu komputer (pengguna) mengirim pesan dalam bentuk teks kepada komputer lainnya. Tapi komputer penerima menerimanya sebagai pesan suara (Voice).
Untuk melengkapi kecanggihan laboratorium bahasa maka pada setiap komputer juga dapat dipasang program pembelajaran bahasa, seperti Learn to Speak English atau Tell Me More. Kedua program ini memiliki banyak fitur untuk belajar Bahasa Inggris. Salah satunya kemampuan untuk memeriksa ketepatan ucapan pengguna dibandingkan dengan Native Speaker.
Semoga bermanfaat, selamat mencoba.
Info:
Ventrilo dapat didownload di http://www.ventrilo.com .
Sumber : http://asepsuhendar.wordpress.com/2007/12/16/memfungsikan-laboratorium-komputer-sebagai-laboratorium-bahasa/
Agar laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa maka laboratorium komputer harus terhubung dalam suatu jaringan (LAN / Local Area Network), kemudian diperlukan juga software untuk mendukung VoIP, dan headset (Microphone dan Headphone) pada setiap komputer. Jika laboratorium komputer di sekolah belum terhubung (belum di-LAN-kan) maka sekolah perlu menyediakan perangkat jaringan yaitu :
- LANCard untuk setiap komputer
- Connector RJ45 (2 buah per komputer)
- Kabel UTP
- Hub / Switch
Biaya untuk pengadaan perangkat ini tidak terlalu besar, yakni LANCard harganya sekitar Rp. 50.000,00/buah, RJ45 Rp. 1.500,00/buah, Kabel UTP sekitar Rp. 2.500,00/meter, dan Hub/Switch harganya berkisar antara Rp. 300.000,00 s/d Rp. 700.000,00. Setelah tersedia perangkat-perangkat jaringan maka sekolah dapat memasang jaringan dengan menggunakan jasa orang yang ahli dalam pemasangan jaringan.
Jika komputer-komputer di laboratorium sudah terhubung dalam LAN, maka selanjutnya tinggal memasang perangkat lunak untuk mendukung VoIP. Terdapat banyak perangkat lunak untuk mendukung VoIP yang dapat di-download di internet seperti Ventrilo, SpeakFreely, Netphone, dsb. Setelah perngkat lunak tersebut dipasang pada setiap komputer maka laboratorium komputer kini dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa.
Beberapa perangkat lunak menyediakan fasilitas yang dapat memfungsikan sebuah komputer sebagai Server yang dapat mengelola komunikasi komputer yang lainnya, misalnya Ventrillo. Ventrillo juga menyediakan fasilitas “Teks to Speak”, yaitu suatu komputer (pengguna) mengirim pesan dalam bentuk teks kepada komputer lainnya. Tapi komputer penerima menerimanya sebagai pesan suara (Voice).
Untuk melengkapi kecanggihan laboratorium bahasa maka pada setiap komputer juga dapat dipasang program pembelajaran bahasa, seperti Learn to Speak English atau Tell Me More. Kedua program ini memiliki banyak fitur untuk belajar Bahasa Inggris. Salah satunya kemampuan untuk memeriksa ketepatan ucapan pengguna dibandingkan dengan Native Speaker.
Semoga bermanfaat, selamat mencoba.
Info:
Ventrilo dapat didownload di http://www.ventrilo.com .
Sumber : http://asepsuhendar.wordpress.com/2007/12/16/memfungsikan-laboratorium-komputer-sebagai-laboratorium-bahasa/
Label:
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
